Home > Artikel > MENGASUH ANAK AGAR TANGGUH HIDUP DI DUNIA YANG PENUH PERSAINGAN

MENGASUH ANAK AGAR TANGGUH HIDUP DI DUNIA YANG PENUH PERSAINGAN


Tantangan anak dan remaja saat ini memang berat. Aktifitas yang padat dari pagi sampai sore yang sudah dirancang agar anak siap menghadapi persaingan dimasa mendatang. Orang tua sibuk bekerja berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun tidak memiliki waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi dan mengawasi anak. Perkembangan teknologi dan media yang makin canggihpun tak terelakkan dan intensitasnya makin tinggi. Disisi lain, hal ini membuat anak kecanduan karena ia menemukan hal yang tidak didapatkan didunia nyata, sehingga zaman ini ibarat ‘era layar’ yang tidak aktif secara fisik. Nah, bagaimana agar kita sebagai orang tua dapat berperan membantu anak untuk menghadapi tantangan ini? Ibu Elly Risman, Psi. menuturkan panjang lebar melalui sebuah seminar di Jakarta.

Memastikan Asupan Energi yang cukup untuk menghadapi aktifitasnya:

Gizi Fisik, kepentinganya tidak bisa disangkal. Para ahli gizi menyatakan jika kurang gizi, jangan harap lulus SD. Kondisi gizi yang baik dan energi yang cukup tidak mungkin didapat bila asupan sehari-harinya tidak diperhatikan. Semua bermula dari hal yang kecil sehari-hari. Bila pagi hari asupan energi kita tak memadai bagaimana mungkin anak mampu beraktifitas dan berpikir? Setelah pulang sekolah, bagaimana anak akan menjalani les dan kegiatan lainnya bila energinya sudah habis terkuras disekolah? Begitu pula dimalam hari saat anak membuat tugas sekolah.

Mendorong anak agar aktif secara fisik (tidak hidup diera layer, dengan pendampingan orangtua dan pola komunikasi yang tepat).

Gizi Jiwa, anak yang aktif secara fisik membuat ia tidak kecanduan dengan dunia layarnya. Ia menemukan hal yang juga mengasyikkan, yaitu berinteraksi dengan sesame yang merupakan aktualisasi diri dan juga meningkatkan kepercayaan dirinya. Hal ini akan berhasil jika orangtua menjadi role model secara aktif untuk melakukannya terlebih dahulu dan mengkomunikasikannya kepadanya dengan baik. Jadi bukan “memerintah” tetapi anak yang membuat keputusan sendiri. Seringkali pola komunikasi antar orang tua dan anak tidak memberikan kesempatan pada anak untuk memilih. Anak juga tidak diberi kesempatan untuk membuat keputusan (biasanya, yang terjadi orangtualah yang memutuskan untuk anak). Kelihatannya sepele bukan?

Tapi dalam banyak hal orangtua atau ibu mengambil alih 3 hal penting “BMM” bagi pertumbuhan: kemampuan Berpikir, Memilih dan Mengambil keputusan, yang merupakan ingredients inti dari ketangguhan.

Gizi Spiritual, unsur lain dari ketangguhan selain kesepakatan orang tua dan komunikasi yang baik dan benar adalah hadirnya dalam diri anak. Ini pijakan dasar yang harus kuat. Karena dengan menghadirkan Tuhan dalam diri anak, anak mengetahui bahwa dia dan orang disekitarnya diciptakan dengan sangat unik. Seiring dengan menyadari keunikkannya, bila dia dalam situasi kompetisi, ia mengenal limitasi dirinya dan bisa menerima kenyataan. Kehadiran Tuhan juga memperkenalkan bahwa diatas segalanya, Tuhan. Tuhan selalu melihat usahaseseorang bukan hasilnya.

Mombi,2008, Giana Lenggawati.

Categories: Artikel Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: