Home > Artikel > Mengembangkan Kecerdasan Anak

Mengembangkan Kecerdasan Anak


Pada dasarnya setiap orangtua dan guru menginginkan masa depan yang gemilang bagi anak didiknya. Mereka berharap agar anak didiknya menjadi orang yang sukses, berguna bagi nusa dan bangsa, berhasil dalam karir, menjadi insan yang shaleh, berilmu dan bertakwa.

Oleh karena itu, semua orang tua dan guru sangat berperan dan bertanggung jawab untuk mendidik putra-putrinya dengan baik. Senantiasa kita ingat bahwa anak-anak sebagai generasi yang unggul tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka memerlukan lingkungan yang mendukung, yang memungkinkan potensi mereka dapat tumbuh dengan optimal.

Memahami Psikologi Anak

Keberhasilan suatu pendidikan juga sering dikaitkan dengan kemampuan para orang tua dan guru dalam memahami anak sebagai individu yang unik. Dimana anak memiliki potensi sendiri-sendiri tidak sama dengan anak lain malah saling melengkapi.

Ada beberapa catatan yang perlu diingat untuk memahami psikologi anak, yaitu:

1.  Bukan orang dewasa mini

anak adalah tetap anak-anak, bukan orang dewasa mini. Mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan bila harus dibandingkan dengan orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang khas dan harus dilihat dengan kaca mata anak-anak. Untuk menghadapi mereka dibutuhkan kesabaran, pengertian serta toleransi yang mendalam.

2.  Dunia bermain

Dunia mereka adalah dunia bermain, yaitu dunia yang penuh dengan spontanitas dan menyenangkan. Sesuatu akan dilakukan anak dengan penuh semangat apabila terkait dengan suasana yang menyenangkan. Namun sebaliknya akan dibenci dan dijauhi oleh anak apabila suasananya tidak menyenangkan.

3.  Berkembang

Anak selain tumbuh secara fisik, juga berkembang secara psikologis. Tidak bisa anak yang dulu sewaktu masih bayi tampak begitu lucu dan penurut, sekarang pada usia 4 tahun misalnya, juga tetap dituntut lucu dan penurut. Ada fase-fase perkembangan yang dilaluinya dan anak menampilkan berbagai perilaku sesuai dengan cirri-ciri masing-masing fase perkembangan tersebut.

4.  Senang meniru

Anak-anak pada dasarnya suka meniru, karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka adalah diperoleh dengan cara meniru.

Anak-anak yang gemar membaca umumnya adalah anak-anak yang mempunyai lingkungan dimana orang-orang disekelilingnya juga gemar membaca. Dengan demikian orang tua dan guru dituntut untuk bisa memberi contoh-contoh keteladadan yang nyata akan hal-hal yang baik, termasuk perilaku bersemangat dalam mempelajari hal yang baru.

5.  Kreatif

Anak-anak memiliki ciri-ciri individu yang kreatif, misalnya: rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajinasi yang tinggi, minat yang luas, tidak takut salah, berani menghadapi resiko, bebas dalam berpikir, senang dalam hal baru.

Komunikasi Yang Efektif

Komunikasi yang efektif antara orang tua, guru dengan anak-anak sangat penting agar saluran komunikasi saling terbuka sehingga terjalin hubungan yang hangat, didasarkan pada suasana kasih sayang dan saling menghargai. Ketika anak mengungkapkan perasaan atau masalahnya, orangtua maupun guru pertama kali perlu ‘membuka pintu’ lebar-lebar dan ‘mengundang’ anak untuk berbicara lebih banyak.

Selanjutnya orangtu dan guru perlu ‘mendengar aktif’, yaitu proses mendengar dimana penerima berusaha untuk mengerti perasaan pengirim, atau berusaha mengerti arti pesan dari pesan yang dikirimkan.

Mendengar aktif memerlukan sejumlah sikap dasar tertentu dari orangtua dan guru, agar dapat berfungsi secara efektif. Yaitu bahwa pada saat tersebut kita harus; mau mendengar anak, bersungguh-sungguh mau menolong anak, dapat menerima perasaan anak, mempercayai kemampuan anak, menyadari bahwa perasaan tersebut hanya sementara, menyadari bahwa anak adalah individu.

Apabila timbul persoalan pada diri anak, misalnya : anak tidak mau mengerjakan PR, anak tidak mau sekolah, anak ingin memiliki barang sebagaimana dimiliki teman-temannya. Lalu bagaimana langkah untuk komunikasi bermula dari orangtua? Bila cara yang disampaikan cenderung kasar dan menggurui hal ini akan merusak komunikasi antara orangtu, guru dengan anak. Karena dengan cara demikian anak akan : merasa bersalah, harga dirinya turun, membuat pertahanan diri yang kuat, menolak usaha orangtua dan terdorong untuk menyerang orangtua dan timbul rasa dendam.

Orangtua dan guru perlu memilih suatu cara yang lebih efektif untuk mempengaruhi anak agar merubah tingkah-lakunya yang tidak dapat diterima oleh orangtua.  Cara itu adalah “ Pesan Diri” atau “Pesan Aku”, yaitu suatu cara yang tidak mengundang pertentangan atau pemberontakan anak. Secara jujur orangtua harus mengataka kepada anak akibat dari tingkah lakunya tersebut. Bukannya dengan mencap bahwa ada sesuatu yang buruk pada diri anak akibat ia bertingkah laku demikian.

Mengembangkan Kecerdasan & Kreativitas

Orangtua dan guru memberi kesempatan kepada anak didiknya untuk dapat mengembangkan potensi mereka sesuai dengan kecerdasan dan kreativitas anak didik masing-masing.

Untuk mengembangkan kemampuan bahasa misalnya, biasakan agar orangtua rajin menjalin percakapan dengan anak, ajaklah ia berbicara dengan suara yang halus, biasakanlah untuk membacakan cerita-cerita dari buku dengan gambar-gambar yang menarik. Ajaklah berdialog dan berilah kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya.

Melalui cara-cara sederhana, pada usia dini anak sudah mulai dapat diperkenalkan pada kegiatan membaca dan menulis. Misalnya dengan cara menempelkan tulisan-tulisan pada benda-benda disekitar anak ;kursi,meja,televisi,pintu,jendela. Atau kepada anak diberikan kertas ukuran besar agar anak dapat menggambar huruf-huruf sederhana seperti : O,I,U,A dst

Untuk mengembangkan kemampuan dasar matematika, anak dapat diperkenalkan konsep berhitung seperti : menghitung jumlah anak tangga, menghitung panjang meja dengan jengkal tangan anak, mengukur tinggi dan berat anak sendiri.

Sementara untuk mengembangkan kemampuan ilmiah, kepada anak bisa diajak untuk melakukan eksperimen seperti : mengamati tumbuhnya kecambah, mengamati proses telur menetas, memperhatikan saat pesawat udara tinggal landas atau mendarat.

Untuk mengembangkan kreativitas anak, orangtua dan guru hendaknya dapat melakukan berbagai cara yang sederhana, mudah dan tidak harus mahal. Misalnya : mendongeng, dapat mengembangkan daya imajinasinya, anak dapat diajak berkomunikasi serta mencoba suatu gagasan terhadap pemecahan masalah.

Berkarya kreatif, membuat aneka karya kreatif dari bahan-bahan sederhana seperti; Koran bekas, pasta gigi, gelas bekas,kotak korek api. Melukis bebas, memberi kesempatan anak untuk mencorat-coret pada tempat-tempat tertentu secara bebas, apakah dengan krayon, spidol atau pensil warna, Untuk mengungkapkan ide-idenya.

Sumber : Makalah Internasional Workshop and Seminar on Lesson Study for Inclusive Education Teachers,

oleh Dr.Seto Mulyadi,Psi.,Msi

Categories: Artikel Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: