Home > Artikel > ∆ temuan baru “MISTERI” PERKEMBANGAN BAHASA ANAK

∆ temuan baru “MISTERI” PERKEMBANGAN BAHASA ANAK


Berbagai temuan yang dilansir akhir-akhir ini membuktikan bahwa masih banyak “misteri” yang belum tersingkap perihal perkembangan kemampuan bahasa anak.
Benarkah janin sudah bisa belajar berbahasa?

Penyerapan dan pemahaman akan tata bahasa telah terjadi sebelum ia belajar menggunakan alat makan. Inilah kesempatan emas bagi orang tua untuk mengasah ketrampilan berbahasa.

Perkembangan kemampuan berbahasa merupakan salah satu tugas besar dan penting dalam perkembangan “kognitif” (berpikir) manusia. Sehingga, hambatan perkembangan anak, terutama dalam berbicara dan berbahasa, yang banyak dikeluhkan akhir-akhir ini memang patut menjadi perhatian berbagai kalangan. Satu hal yang kerap kita abaikan adalah kemampuan berbahasa tak terjadi dalam sekejap waktu, sehingga hambatan perkembangan dalam bidang ini mestinya dapat kita atasi jauh-jauh hari, seperti yang ditemukan dalam berbagai studi berikut ini.

Sejak janin
Dalam banyak buku dan pengalamam ibu-ibu hamil diketahui, betapa janin begitu peka terhadap berbagai unsur bunyi yang ada di sekitarnya, terutama musik dan suara keras. Namun, sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti New Yorker’s Coloumbia Presbyterian Medical Center menemukan bahwa janin juga memberikan respons yang signifikan terhadap sebuah percakapan. Menurut penelitian tersebut, kecepatan rata-rata detak jantung janin merosot setiap kali ibu-ibu mereka mereka menyebut frase sederhana, seperti, “Hello Baby”. Secara prediktif (dapat diramalkan) hal ini berulang setiap kali dilakukan hal yang sama. Studi serupa yang dilakukan di Perancis bahkan menunjukkan bahwa janin yang terbiasa mendengar ucapan “babi,babi” segera memberikan reaksi jika bunyi yang biasa mereka dengar dibalik menjadi “biba,biba”.

Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa janin dan bayi lebih mudah belajar melalui pengkondisian. Dugaan ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh psikolog Jenny Saffran dari University of Winconsin. Bersama tim, ia mengkondisikan bayi-bayi berusia 8 bulan untuk mengakrabi kata-kata yang terdiri dari tiga suku kata yang tak bermakna seperti “bidaku” dan “padoti” dalam susunan acak melalui sebuah alat peniru bunyi. Suatu saat, peneliti mengubah susunan suku kata dan menguji bayi-bayi itu lagi. Hasilnya, meski bayi belum dapat mengaitkan makna dan kata, namun dengan mudah mereka dapat membedakan bunyi yang mereka dengar saat itu, seperti “dadobi” atau “kupado” dari kata-kata yang telah mereka akrabi.

Banyak temuan dan tanda tanya

Episode lain perkembangan anak yang mungkin belum banyak kita ketahui adalah bahwa anak telah menyerap dan memahami tata bahasa jauh sebelum mereka belajar menggunakan alat makan. Bahkan studi terbaru menunjukkan, anak-anak secara aktif “mencari” aturan tata bahasa yang tak tertulis, sejak bayi. Bayi 7 bulan yang telah terdeteksi mengalami gangguan perkembangan bahasa, misalnya, dapat membedakan adanya perubahan sintaksis (tata kalimat) pada kalimat-kalimat yang biasa didengarnya.
Studi yang dilkukan psikolog Gary Markus dari New York University ini memperlihatkan bahwa anak tak semata belajar dari pengkondisian, tetapi ternyata juga secara spontan mencari sendiri dasar-dasar aturan bahasa umum.

Meskipun demikian, berdasarkan berbagai studi yang telah dan sedang dilakukan, kecenderungan manusia yang unik kerapkali pula “mengelincirkan” berbagai asumsi yang didasarkan bukti-bukti ilmiah. Berbagai kelainan bawaan (kongenital) atau masalah anak seperti autisme, gangguan pendengaran, cedera otak, juga isolasi sosial, dapat menyebabkan gangguan perkembangan bahasa pada anak, meski pada umumnya mereka dapat dilatih untuk mengejar ketinggalannya. Bahkan, 3-7 % dari gangguan perkembangan bahasa diidentifikasi pakar sebagai Specific Language Impairment (SLI), yaitu perusakan bahasa yang bersifat khusus. Tidak ada penanganan tertentu yang berlaku umum untuk SLI yang dikembangkan para ahli. Sebab, pakar ilmu saraf memandangnya sebagai gangguan pemrosesan auditori, namun pakar kognitif menilai SLI sebagai akar dari masalah gramatikal pada seseorang. Sigkatnya, penyebab yang berbeda tentu menuntut penanganan yang berbeda pula.

Meski berbagai temuan telah menjawab tanda Tanya besar yang hingga kini masih memenuhi benak orang tua, namun proses pembelajaran bahasa yang terkait erat dengan kerja otak hingga kini masih menyimpan kabut “misteri” bagi para pakar. Gangguan dalam perkembangan bahasa yang dapat dideteksi penyebabnya, tampaknya memang masih relatif mudah diatasi dan diantisipasi. Namun, gangguan dan penyebab multi faktor masih menjadi obyek studi lanjutan berbagai pakar.

Sumber: Andi Maerzyda A. Th.
Ayahbunda Agust-Sept. 2001

Meri, 24 Januari 2009

Categories: Artikel
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: