Home > Artikel, Proses Mendengar > PROSES MENDENGAR dan GANGGUAN PENDENGARAN PADA BAYI DAN ANAK Oleh. Dr. Ashadi Prasetyo

PROSES MENDENGAR dan GANGGUAN PENDENGARAN PADA BAYI DAN ANAK Oleh. Dr. Ashadi Prasetyo


PENDAHULUAN

Proses mendengar pada anak atau orang dewasa normal merupakan proses yang alami, timbul tanpa usaha tertentu dari individu dan sepertinya terjadi secara otomatis dan tanpa kita sadari, padahal untuk dapat mendengar bunyi atau suara percakapan harus melalui suatu tahapan atau proses.

Proses mendengar sebenarnya sudah terjadi segera setelah bayi dilahirkan normal ke dunia, bahkan organ pendengaran sudah berfungsi seperti layaknya orang dewasa  tatkala janin berusia 20 minggu kehamilan. Janin sudah dapat memberikan reaksi ketika diberikan stimulus berupa nada murni berfrekwensi tinggi melalui microphone yang ditempatkan pada perut ibu seperti yang dilaporkan pertama kali oleh seorang peneliti yang bernama Johansson et al pada tahun 1964.

Kemudian dalam perjalanan hidupnya sejak dilahirkan, bayi akan mendapat input suara-suara yang ada dilingkungan sekitarnya sehari-hari secara terus menerus. Dalam keadaan pendengaran normal, rangsangan suara tadi akan direkam dan dipersepsikan dipusat sensorik diotak sehingga anak dapat mengenal suara yang pernah didengarnya.

Pendengaran sebagai salah satu indera, memegang peranan yang sangat penting karena perkembangan bicara sebagai komponen utama komunikasi pada manusia sangat tergantung pada fungsi pendengaran.

Dari uraian diatas sangatlah jelas hubungan antara kemampuan anak untuk mendengar dan kemampuan untuk berbicara. Apabila terjadi gangguan pendengaran sejak dini maka akan terjadi pula gangguan perkembangan bicara.Untuk lebih memahami proses mendengar ada baiknya kita mengetahui sekilas tentang anatomi dan fisiologi organ pendengaran

ANATOMI DAN FISIOLOGI ORGAN PENDENGARAN

Secara garis besar telinga dibagi atas 3 bagian yaitu  : Gb.1

A. Telinga Luar yang terdiri dari :

1. Daun telinga

2. Liang telinga

B. Telinga Tengah yang terdiri dari  :

1. Membran Timpani (Gendang Telinga)

2. Ruang telinga tengah (kavum timpani) yang didalamnya terdapat tulang-tulang

pendengaran yaitu : MALEUS, INKUS,dan STAPES.

3. Saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan tenggorok yang disebut Tuba Eustachius.

C. Telinga Dalam yang terdiri dari    :

1. Cochlea (rumah siput) yang didalamnya terdapat 3 buah terowongan yaitu         :

Scala vestibule yang berisi cairan perilimf, Scala media yang berisi endolimf dan

Scala timpani yang berisi perilimf.

Didalam Scala media terdapat Organ Corti yang terdiri satu baris sel rambut

Dalam (inner hair cell) dan 3 baris sel rambut Luar (outer hair cell) serta sebu-

ah membran yaitu tectoria membrane

2. Syaraf  pendengaran.

Gambar 1.Bagian-bagian telinga

Suara atau bunyi yang masuk ditangkap oleh daun telinga, kemudian diteruskan kedalam liang telinga luar yang akan menggetarkan gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan dan diperkuat oleh tulang-tulang pendengaran yang saling berhubungan yaitu malleus, incus dan stapes. Stapes akan menggetarkan tingkap lonjong (oval window ) pada rumah siput yang berhubungan dengan scala vestibuli sehingga cairan didalamnya yaitu perilimf ikut bergetar.
Getaran tersebut akan dihantarkan ke rongga dibawahnya yaitu scala media yang berisi endolimf sepanjang rumah siput. Didalam scala media terdapat organ corti yang berisi satu baris sel rambut dalam (Inner Hair Cell) dan tiga baris sel rambut luar (Outer Hair Cell) yang berfungsi mengubah energi suara menjadi energi listrik yang akan diterima oleh saraf pendengaran yang kemudian menyampaikan atau meneruskan rangsangan energi listrik tersebut kepusat sensorik mendengar di otak sehingga kita bisa mendengar suara atau bunyi tersebut dengan sadar.

KETERANGAN GAMBAR : Potongan Rumah Siput

1. SKALA VESTIBULI                   

2. SKALA MEDIA               

3. SKALA TIMPANI

4. SEL RAMBUT LUAR (OUTER HAIR CELL)

5. SEL RAMBUT DALAM (INNER HAIR CELL)

6. SARAF PENDENGARAN

 
   

GANGGUAN PENDENGARAN PADA BAYI DAN ANAK

 Gangguan telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabkan gangguan pendengaran tipe KONDUKTIF (Conductive Hearing Loss) dimana terdapat hambatan hantaran  gelombang suara karena  kelainan atau penyakit pada telinga luar dan tengah, sedangakan gangguan telinga dalam dapat menyebabkan gangguan pendengaran tipe SENSORI NEURAL (Sensori Neural Hearing Loss). Jika terdapat kelainan atau penyakit tipe konduksi disertai sensorineural maka kelainan tersebut termasuk tipe CAMPURAN (Mixed Hearing loss).

Penyebab gangguan pendengaran pada anak biasanya dibedakan menjadi 3 berdasarkan saat terjadinya gangguan pendengaran yaitu :

  1. Pada saat kehamilan atau dalam kandungan (PRENATAL)

Yang berkaitan dengan keturunan (genetik)

Yang tidak berkaitan dengan keturunan seperti Infeksi pada kehamilan terutama pada awal kehamilan/trimester pertama (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes, Sifilis), kekurangan zat gizi, kelainan struktur anatomi serta pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan yang berpotensi menggangu proses pembentukan organ dan merusak sel-sel rambut dirumah siput seperti salisilat,kina, neomycin, streptomisin, gentamisin,thalidomide barbiturate dll

2.  Pada saat Kelahiran atau Persalinan (PERINATAL)

Beberapa keadaan yang dialami bayi pada saat lahir juga merupakan faktor resiko untuk terjadinya gangguan pendengaran seperti tindakan dengan alat pada saat proses kelahiran (ekstraksi vakum,tang forsep), bayi lahir premature (< 37 mgg),berat badan lahir rendah (< 2500 gr), lahir tidak menangis (asfiksia), lahir kuning (hiperbilirubinemia).

Biasanya jenis gangguan pendengaran yang terjadi akibat faktor prenatal dan perinatal ini adalah tipe saraf / sensori neural dengan derajat yang umumnya berat atau sangat berat dan sering terjadi pada kedua telinga.

3.  Pada saat setelah Persalinan (POSTNATAL)

Pada saat pertumbuhan seorang bayi dapat terkena infeksi bakteri maupun virus seperti Rubella (campak german), Morbili (campak), Parotitis, meningitis (radang selaput otak), otitis media (radang telinga tengah) dan Trauma kepala.

Bayi yang mempunyai  faktor resiko diatas mempunyai kecenderungan menderita gangguan pendengaran lebih besar dibandingkan bayi yang tidak mempunyai faktor resiko tersebut.

Seorang anak harus  diperiksa fungsi pendengarannya segera setelah dicurigai terdapat faktor-faktor resiko diatas  atau anak tidak bereaksi terhadap bunyi-bunyian disekitarnya (tepukan tangan, suara mainan, terompet, sendok yang dipukulkan ke gelas/piring dll) dan terdapat keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa.

Categories: Artikel, Proses Mendengar
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: